Jakarta, CNN Indonesia —
Di bawah kubah legendaris Cirque d’Hiver Bouglione, Stéphane Rolland menghadirkan ‘Parade’. Koleksi haute couture untuk musim panas 2026 ini bukan sekadar Gaya Busana show, tapi pertunjukan multi-indra yang menjadi sebuah ‘Gaya Busana-experience‘.
Semerbak Aroma Henry Jacques terasa di seluruh panggung. Sejak siluet pertama memasuki arena bundar, La piste centrale, jelas ini bukan runway konvensional, Justru sebuah pernyataan tentang mode sebagai seni performatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Mode menjelma menjadi seni gerak, sekaligus seni rupa yang berwujud,” terang Stephane Rolland dalam show note-nya yang diterima CNNIndonesia.com.
Cirque d’Hiver memiliki sejarah panjang. Dibangun pada 1852 di era Napoleon III oleh arsitek Jacques Ignace Hittorff, bangunan poligonal dua puluh sisi ini Pernah menjadi saksi sejarah akrobat, kuda, trapeze, dan mimpi-mimpi urban Paris. Kehadirannya memberi bobot historis pada koleksi yang memang berangkat dari gagasan sirkus sebagai ‘ruang sakral’, sebuah pabrik imajinasi yang menuntut disiplin, ketegangan, dan presisi.
Di tempat inilah, Parade menjadi sebuah prosesi yang hening Justru intens.
Inspirasi utama Rolland Merupakan Pablo Picasso dan relasinya dengan dunia sirkus serta balet Parade (1917), kolaborasi radikal Picasso, Erik Satie, Jean Cocteau, dan Léonide Massine.
Seperti kostum kubistis Picasso, Rolland membangun siluet yang bersifat arsitektural. Gazar, satin duchesse, dan crêpe diperlakukan sebagai bahan kontstruksi garmen yang tidak hanya menghiasi tubuh, Justru Bahkan menjadi pelindung seperti baju zirah.
Koleksi ini dibuat dalam palet warna dominan: hitam-putih yang imperatif, plum, burgundy, cokelat madu, Sampai saat ini kilau batu mulia. Mantel panjang asimetris dan jumpsuit putih dari gazar, disulam jonquil diamond, membuka narasi dengan ketegasan yang nyaris monastik.
Sebuah jubah panjang dari crêpe matte putih dipasangkan dengan baggy shorts organza hitam, berumbai kristal hitam dan sulaman porselen putih serta berlian, yang membentuk sebuah kontras antara asketisme dan kemewahan.
Pada cape tunic dan rok panjang Georgette crepe hitam, motif merpati dari organza putih bersulam kristal muncul sebagai ornamen yang megah.
Taburan bordir karya atelier Bizet Bahkan menjadi highlight. Rubi, garnet, amber, lapis lazuli, dan berlian dibentuk seperti konstelasi titik cahaya dalam kegelapan.
Misalnya pada gaun panjang ‘Coupole’ dari crêpe plum yang disulam rubi dan garnet. Sweater dress panjang dari organza berpayet warna madu, sulaman amber dan lapis lazuli mengikuti jatuh kain, menangkap gerak tubuh alih-alih membekukannya.
Puncaknya, sebuah cape dress berbahan crêpe putih dengan motif merpati bersulam berlian di penutup show yang simbolik.
|
Ilustrasi. Show Stephane Rolland di Paris Couture Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
|
Referensi musikal Bahkan turut membentuk ritme show ini. Minimalisme ironis Erik Satie memberi tempo lambat, hampir hipnotik. Sementara melankolia Nino Rota, yang mengingatkan pada Layar Lebar Fellini, menambahkan kelembutan pada figur-figur arketipal gaun-gaun yang masing-masing memiliki karakter: Monsieur Loyal yang tegas, Auguste yang rapuh, Pierrot yang melankolis.
“Seluruhnya dipersatukan oleh gerak, seperti sebuah sirkus yang berdenyut antara keanggunan dan ketegangan”, jelasnya.
Parade terasa sebagai evolusi dari Boléro, koleksi haute couture-nya musim lalu, terlihat dari ritme repetitif, ketegangan antara struktur dan emosi, serta penggunaan busana sebagai perangkat dramaturgi. Bila Boléro berdenyut dalam spiral musikal, Parade bergerak melingkar, seperti sebuah cerita yang berkesinambungan.
Keduanya menegaskan obsesi Rolland pada gerak sebagai esensi couture.
Menghadiri pertunjukan ini dari jarak dekat Memperjelas satu hal: haute couture tidak dapat sepenuhnya dipahami lewat layar.
Detail bordir, berat kain, dan terutama relasi antara busana, musik, dan ruang baru terbaca ketika tubuh bergerak di hadapan kita. Begitu pula dengan keriuhan dan gegap gempita yang diciptakannya.
Tarikan napas penonton ketika seorang penari meliuk-liuk ‘terbang’ berputar tergantung di udara, gema langkah di arena, Sampai saat ini cahaya yang memantul pada batu mulia, semuanya menjadi bagian dari karyanya.
Merpati putih beterbangan di atas arena, lalu Rolland dan sang model masing-masing memegang seekor merpati. Ia meletakkannya di bahu saat memberi hormat.
|
|
Di tengah kemegahan dan kegembiraan di arena, tampaknya Rolland Bahkan menyadari bahwa dunia Baru saja tidak baik-baik saja. Dalam gestur sederhana itu terkandung pernyataan politis yang puitis.
“Di tengah dunia yang tak menentu, mereka hadir sebagai tanda optimisme tanpa menjadi naif. Mereka mengingatkan kita bahwa bahkan di dalam bayang-bayang, cahaya tetap bertahan”, tutupnya.
Parade Pernah menjadi sebuah transformasi, dari Gaya Busana show yang monoton menjadi sebuah seni pertunjukan. Ia menempatkan couture sebagai seni hidup-bergerak, berisiko, dan bermakna-di sebuah arena yang sejak abad ke-19 Pernah mengajarkan Paris untuk bermimpi.
(asr/asr)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
