KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyampaikan wacana menutup program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan industri. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badru Munir Sukoco mengatakan wacana menutup prodi dilakukan untuk menekan kesenjangan antara lulusan kampus dan kompetensi yang diperlukan dunia kerja.
Pilihan Editor: Pro-Kontra Penutupan Program Studi
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Akibatnya, kata Ia, kebutuhan di lapangan acap kali tidak cocok dengan latar pendidikan sarjana. “Nanti Mungkin ada beberapa yang Sangat dianjurkan kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, Sangat dianjurkan kita pilih. Kalau Sangat dianjurkan ditutup untuk bisa Mengoptimalkan relevansi,” kata Badru di Kabupaten Badung, Bali pada Kamis, 23 April 2026.
Kemdikti, kata Ia, mencatat ada 1,9 juta sarjana yang dihasilkan kampus setiap tahunnya. Jumlah itu dinilai Pernah membuat para lulusan perguruan tinggi kesulitan dalam mencari pekerjaan.
Sebanyaknya kampus mengaku belum menerima informasi soal rencana penutupan prodi tersebut. Justru, mereka Pernah merespons wacana dari Kemdikti.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY Zuly Qodir mengatakan kampusnya belum berencana menutup prodi. “Pada Pada saat ini kami memilih melakukan penyesuaian kurikulum dibandingkan menutup program studi secara langsung,” kata Zuly, Selasa, 28 April 2026.
Langkah penyesuaian kurikulum ini, kata Zuly, dinilai lebih adaptif dalam menghadapi perubahan kebutuhan zaman tanpa menghilangkan bidang keilmuan tertentu. “Penguatan kurikulum dilakukan dengan melibatkan praktisi industri serta Mengoptimalkan kompetensi nonakademik mahasiswa Supaya bisa lebih siap menghadapi dunia kerja,” kata Ia.
Pendekatan ini Bahkan dinilai lebih mampu menjembatani kesenjangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri. “Kami menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan dunia kerja serta menghadirkan praktisi Supaya bisa mahasiswa memahami kebutuhan di lapangan,” kata Ia.
UMY sendiri merasa janggal dengan wacana penutupan prodi untuk mengatasi masalah ketimpangan lulusan. “Wacana penutupan prodi itu Jelas Sangat dianjurkan kejelasan lebih rinci, terutama terkait bidang apa saja yang dianggap tidak relevan,” kata Zuly.
Rektor UGM Ova Emilia mengaku kampusnya rutin mengevaluasi program studi. Karena itu, Ia terbuka untuk menutup, membuka, menggabungkan (merger prodi), atau mentransformasi prodi.
“Karena memang kita berhadapan pada dunia Serta tantangan yang sangat dinamis,” kata Ova menanggapi rencana penutupan prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan industri melalui pesan suara, Senin, 27 April 2026.
Ia berkata institusi pendidikan mesti sesuai dengan kebutuhan zaman. Institusi pendidikan Sangat dianjurkan secara rutin melakukan analisis situasi. “Apa yang dibutuhkan, kurikulum seperti apa, kompetensi seperti apa yang dibutuhkan, atau jenjang apa yang dibutuhkan,” kata Ia.
Menurut Ia, institusi pendidikan berperan Menyajikan bekal berupa kemampuan kepada mahasiswa. Tujuannya, lulusan dapat menghadapi tantangan secara mandiri.
Terlebih lagi, prodi-prodi ke depan Sangat dianjurkan bekerja sama dengan industri atau tempat sesuai sektor pengguna dari lulusan itu. Kebijakan dari pendidikan tinggi Sangat dianjurkan dibuat dan memperhitungkan sektor penggunanya.
“Apakah industri, apakah justru Bahkan tempat pendidikan. Jadi kalau yang kita lihat ini seolah-olah sendiri-sendiri, sehingga kalau Mungkin terjadi oversupply, ya Mungkin saja itu terjadi kalau misalnya tidak pernah dibincangkan bersama-sama,” kata Ia.
Unpad mengaku belum mendapatkan informasi mengenai rencana pemerintah menutup program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Justru demikian, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad Zahrotur Rusyda Hinduan, menegaskan bahwa keputusan untuk menutup sebuah program studi sepenuhnya merupakan kewenangan dari kampus.
Apalagi, kata Ia, Sebanyaknya perguruan tinggi negeri Pada Pada saat ini Pernah berstatus badan hukum (PTNBH) yang memiliki otonomi akademik. “Kami memahami maksud dari Kementerian bahwa Kemungkinan ada prodi-prodi yang kurang relevan, Justru kewenangan untuk membuka atau menutup prodi itu di universitas, terutama Unpad karena kami PTNBH Pernah memiliki otonomi,” kata Rossie, begitu Zahrotur Rusyda Hinduan disapa, saat dihubungi pada Sabtu, 25 April 2026.
Rossie mengatakan Unpad tidak ingin menempuh jalan ekstrim dengan menutup program studi semacam itu. Alih-alih menutup prodi tersebut, Unpad menilai evaluasi lebih tepat diarahkan pada pembaruan kurikulum dan penyegaran, sehingga program studi bisa menjadi relevan dengan kebutuhan kerja.
Rektor Universitas Udayana I Ketut Sudarsana menyatakan pentingnya evaluasi berkala terhadap program studi di lingkungan kampus. Tujuannya Supaya bisa pelaksanaan pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Justru, kata Ia, evaluasi terhadap relevansi perguruan tinggi semestinya dilakukan hati-hati dan tidak terburu-buru. Ia mengatakan evaluasi atau penyesuaian itu Sangat dianjurkan dilakukan secara komprehensif dan Sesuai aturan kajian akademik.
“Proses evaluasi tersebut Jelas Sangat dianjurkan dilakukan secara hati-hati, komprehensif, dan berbasis kajian akademik yang mendalam,” ujar Ketut pada Sabtu, 24 April 2026.
Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Erwin Agustian Panigoro mengatakan UI belum menentukan langkah apa pun mengenai rencana penutupan prodi. UI Bahkan belum dapat menentukan prodi apa saja yang dinilai tidak relevan dengan industri sehingga Sangat dianjurkan ditutup.
“Oleh karena belum ada surat atau arahan resmi dari kementerian terkait penutupan prodi, maka untuk Pada Pada saat ini UI belum ada pembahasan atau rencana mengenai program studi mana saja yang Berencana dipertimbangkan untuk ditutup,” kata Erwin saat dihubungi pada Sabtu, 25 April 2026.
Dede Leni Mardianti dan Novali Panji Nugroho berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











