loading…
Pada Jumat 14 Agustus 2026, Kepala Negara Prabowo Subianto menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat, Senayan. Foto/Dok
GREAT Institute menilai RAPBN 2027 dan Nota Keuangan menunjukkan arah kebijakan ekonomi yang lebih jelas di mana APBN tidak hanya diposisikan sebagai instrumen pembiayaan negara, tetapi sebagai alat pembangunan untuk Mengoptimalkan kapasitas produksi, memperbaiki layanan dasar, menutup kebocoran, Mengoptimalkan efisiensi belanja, dan memastikan pertumbuhan lebih langsung dirasakan rakyat.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira menilai, pidato Nota Keuangan tersebut memperlihatkan konsistensi paradigma ekonomi Kepala Negara Prabowo. Negara ditempatkan bukan sekadar sebagai penjaga stabilitas, melainkan sebagai institusi yang aktif membenahi pasar, Mengoptimalkan daya saing, mengurangi biaya transaksi, serta mengarahkan sumber daya nasional ke sektor yang lebih produktif.
Baca Bahkan: Pidato Prabowo Bangun Confidence, Ekonom Berikan Beberapa Catatan
“Pidato Nota Keuangan Kepala Negara Prabowo menunjukkan paradigma yang konsisten. Negara Dianjurkan kuat, tetapi bukan berarti pasar dimatikan. Justru pasar yang sehat membutuhkan negara yang mampu Menyediakan data yang baik, aturan yang jelas, pengadaan yang efisien, infrastruktur dasar, Pasar Saham yang kredibel, dan perlindungan bagi rakyat,” ujar Adrian.
Menurut Adrian, karakter utama RAPBN 2027 terletak pada upaya menggabungkan tiga agenda sekaligus, Dikenal sebagai pertumbuhan yang lebih tinggi, belanja yang tetap ekspansif, dan defisit yang lebih terkendali. Pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun, belanja negara Rp4.097,2 triliun, serta pembiayaan Rp671,2 triliun dengan defisit 2,40% PDB. Defisit tersebut lebih rendah dibandingkan APBN 2026 sebesar 2,68% PDB.
“Secara nominal belanja memang naik, tetapi pemerintah tidak Dalam proses mencoba mendanai pertumbuhan 6 persen dengan defisit yang lebih besar. Dengan asumsi PDB 2027 sekitar Rp27.987 triliun, belanja negara setara sekitar 14,6 persen PDB, sedikit lebih rendah dari 14,94 persen dalam APBN 2026. Jadi taruhan sesungguhnya Merupakan higher bang for the buck: kualitas belanja, produktivitas Penanaman Modal, dan kemampuan negara mengungkit modal swasta,” ujar Adrian.
Baca Bahkan: Rincian Asumsi Makro RAPBN 2027! Mata Uang Nasional Dipatok Rp17.500/USD, Prabowo Target Ekonomi RI Tumbuh 6%
GREAT Institute mencatat RAPBN 2027 menargetkan Peningkatan Ekonomi 6%, lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4%. Fluktuasi Harga Barang dan Jasa ditargetkan 2,5%, suku bunga SBN 10 tahun 6,9%, Kurs Mata Uang Mata Uang Nasional Rp17.500 per USD AS, harga minyak mentah Indonesia USD75 per barel, lifting minyak 610 ribu barel per hari, dan lifting gas 954 ribu barel setara minyak per hari.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











