Perkuat Tata Kelola, Telkom Lakukan Reset Akuntansi dan Tetap Bukukan Kinerja Resilien

loading…

Foto: Doc. Istimewa

JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menutup kinerja perseroan tahun buku 2025 dengan hasil yang mencerminkan keberlanjutan penciptaan nilai bagi pemegang saham, seiring dengan percepatan eksekusi agenda transformasi perusahaan. Telkom mencatat net income sebesar Rp17,8 triliun dengan net income margin 12,1%, sedangkan untuk normalized net income tercatat sebesar Rp22,7 triliun dengan normalized net income margin 15,4%. Pencapaian ini diperoleh dari pendapatan konsolidasi perseroan yang tercatat sebesar Rp146,7 triliun. EBITDA (Laba sebelum Bunga, Retribusi Negara, Depresiasi, dan Amortisasi) konsolidasi perseroan tahun 2025 tercatat Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2%. Sementara normalized EBITDA tercatat sebesar Rp73,2 triliun dengan normalized EBITDA margin sebesar 49,9%.

Sejalan dengan arah transformasi dan penguatan fundamental, perseroan mencatat Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7% sepanjang 2025, yang terdiri dari capital gain sebesar 28,4% dan dividend yield 7,3%. Hal ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom, yang turut didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio sebesar 89% untuk pembayaran tahun buku 2024 serta pelaksanaan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung Sampai saat ini Mei 2026.

Akselerasi Eksekusi Strategi Transformasi TLKM 30
Di tengah tekanan kondisi makroekonomi dan tantangan yang dihadapi sektor telekomunikasi dalam beberapa tahun terakhir, Telkom terus beradaptasi dan bertransformasi baik dari sisi strategi perusahaan, model Usaha, maupun produk dan layanan. Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi Pernah menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. “Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.”

Melalui strategi transformasi jangka menengah TLKM 30, Telkom fokus pada eksekusi empat pilar besar, pilar pertama Dengan kata lain Operational & Service Excellence, sebagai upaya Mengoptimalkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Hal ini Bahkan mendorong peningkatan disiplin organisasi yang berkelanjutan, termasuk Kebiasaan kerja Terdepan, proses yang efisien, serta peningkatan kualitas layanan untuk Mendukung pengalaman pelanggan yang lebih baik.

Pada pilar transformasi kedua, perseroan melakukan Streamlining sebagai strategi penataan portofolio non-core business Supaya bisa perseroan dapat kembali mendorong kontribusi yang lebih optimal dan efisiensi operasional, serta Mengoptimalkan keunggulan kompetitif pada core business di sektor telekomunikasi dan digital. Implementasi strategi tersebut tercermin melalui proses divestasi AdMedika dan anak usahanya TelkoMedika yang Pernah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) Ke arah divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026. Divestasi penuh atas AdMedika dan TelkoMedika Bahkan Berencana berkontribusi terhadap peningkatan arus dividen (dividend stream). Beberapa entitas dengan Usaha serupa atau tidak sesuai dengan core business di ekosistem TelkomGroup Bahkan Baru saja dirampingkan.

Selanjutnya, pada pilar transformasi ketiga perseroan berfokus pada upaya peningkatan nilai tambah (Unlock Value), salah satunya melalui penguatan fondasi Usaha infrastruktur digital yaitu konektivitas fiber. Inisiatif ini ditujukan untuk Mengoptimalkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets (ROA), sekaligus Memperluas kontribusi Telkom dalam Mendukung konektivitas nasional. Pemisahan sebagian Usaha dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025 yang merupakan fase carve-out tahap pertama. Langkah ini Bahkan menjadi bagian dari arah transformasi Ke arah strategic holding yang lebih fokus pada penguatan penciptaan nilai, pengelolaan portofolio Usaha yang lebih optimal, serta percepatan eksekusi strategi secara berkelanjutan.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version