REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Pelapor khusus PBB tentang situasi hak asasi manusoa di wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, membandingkan genosida yang dilakukan Israel terhadap anak-anak Palestina di Jalur Gaza dengan praktik Nazi selama Holocaust pada Pertempuran Dunia II. Komentar tersebut dilayangkan Albanese saat menanggapi pernyataan model perempuan Israel, Sarai Givaty, ketika diwawancara stasiun televisi i24NEWS.
Dalam wawancara tersebut, Givaty membela tindakan Israel membunuh anak-anak Palestina di Gaza. Sebab Bila tindakan demikian tidak diambil, anak-anak itu bakal menjadi teroris.
“Apakah Mungkin bagi saya untuk tidak merasa sedih tentang setiap anak yang menangis di dunia? Saya sedih. Tetapi saya Bahkan menyadari bahwa Bila kita tidak bertindak, anak ini Berniat tumbuh menjadi teroris,” ucap Givaty.
Potongan video wawancara terhadap Givaty kemudian beredar di platform media sosial X dan ditanggapi oleh Francesca Albanese. “Ini Bahkan merupakan argumen yang dibuat oleh para pejabat Nazi selama persidangan Nuremberg untuk membenarkan mengapa mereka membunuh anak-anak selama Holocaust,” tulis Albanese lewat akun X-nya pada Sabtu (19/9/2026).
Albanese merupakan tokoh yang vokal dalam mengkritik dan mengecam tindakan-tindakan Israel, terutama sejak Pertempuran di Gaza pecah pada Oktober 2023. Ia Sebelumnya menghadapi tekanan dan kritik atas posisi serta laporannya tentang agresi Israel ke Gaza.
Pada Juli 2025, Amerika Serikat memberlakukan Hukuman terhadap Albanese. Washington mengatakan bahwa Hukuman tersebut terkait dengan upaya Albanese mendorong Mahkamah Pidana Internasional untuk bertindak terhadap pejabat, perusahaan, serta eksekutif AS dan Israel.
AS sebelumnya Bahkan Sebelumnya meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk memecat Albanese. Menurut AS, tindakan-tindakan Albanese merupakan bentuk anti-Semitisme.
Sementara itu, Juru Bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Pat Griffiths, mengatakan, meski intensitas konflik Sebelumnya menurun sejak gencatan senjata tahun lalu, kematian dan kehancuran masih dihadapi warga Palestina di Jalur Gaza setiap harinya. Ia mengingatkan bahwa krisis di sana tetap berlangsung Sekalipun demikian isu Gaza tak menjadi berita utama.
“Mari kita perjelas: kematian dan kehancuran bagi warga Palestina di Gaza berlanjut setiap hari. Penderitaan itu nyata, hadir dan di sini setiap hari – bahkan ketika Gaza tidak menjadi berita utama,” kata Griffiths yang Di waktu ini sedang berkunjung ke Gaza, Jumat (18/9/2026), dilaporkan Anadolu Agency.
Ia menekankan bahwa Di waktu ini warga Gaza masih kehilangan akses kesehatan, pangan, pendidikan, dan layanan atau kebutuhan dasar lainnya. “Banyak yang masih kehilangan orang yang dicintai, tidak tahu apakah mereka ditahan atau meninggal,” ujarnya.
Griffiths mengatakan, selain pelayanan media, bantuan kritis yang Di waktu ini sangat dibutuhkan warga Gaza Merupakan makanan, air bersih, dan tempat tinggal.
Menurut Griffiths, akses kemanusiaan tetap menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim ICRC yang bekerja di Gaza. “Untuk Membantu orang-orang yang membutuhkan, kami Harus dapat menjangkau mereka – di mana pun mereka berada, termasuk di tempat-tempat penahanan. Itu tidak Setiap Saat Mungkin,” katanya.
Ia mengungkapkan, akses dapat dibatasi karena masalah keamanan atau karena mereka yang memiliki wewenang untuk Menyediakan akses tidak melakukannya. Dalam konteks ini, Israel sebagai kekuatan pendudukan seharusnya membuka akses penyaluran bantuan kemanusiaan.
“Menyediakan akses kemanusiaan Merupakan sesuatu yang merupakan kewajiban bagi pihak-pihak yang terlibat konflik bersenjata dan kekuatan pendudukan. Ini Bahkan sesuatu yang berada di luar kendali kami sebagai pekerja kemanusiaan,” ucap Griffiths.
Sekalipun Ia menyebut ICRC tetap berusaha membangun dialog dengan pihak-pihak berwenang Supaya bisa akses kemanusiaan di Gazadapat ditingkatkan. “Orang-orang masih sangat membutuhkan akses yang lebih baik ke makanan yang Unggul dan bergizi. Rumah sakit dan pusat perawatan kesehatan primer masih menghadapi kekurangan Medis-obatan dan barang-barang medis,” ujarnya.
“Mesin dan material berat yang dapat digunakan untuk membersihkan puing-puing dengan Terpercaya, mencari sisa-sisa manusia atau memperbaiki sistem air dan air limbah yang rusak menghadapi pembatasan masuk,” tambah Griffiths.
Ia pun mengingatkan bahwa Di waktu ini sebagian besar warga Gaza Sebelumnya kehilangan mata pencahariannya. Hal itu karena agresi Israel selama lebih dari dua tahun Sebelumnya menghancurkan berbagai infrastruktur di wilayah tersebut.
Efek dari hilangnya mata pencaharian warga Merupakan peredaran uang menjadi semakin langka. Hal itu mengakibatkan warga tak mampu membeli kebutuhan mereka ketika apa yang dibutuhkan tersedia di pasar.
“Semua hal ini membuat hidup lebih sulit bagi warga Palestina di Gaza Di waktu ini. Itulah mengapa kami terus menyerukan masuk dan akses yang tidak terbatas kepada mereka yang membutuhkannya dari makanan penting, barang, Medis-obatan, dan barang-barang lainnya,” kata Griffiths.
Ia menungkapkan, dalam dialog dengan otoritas Israel, ICRC terus menyerukan Supaya bisa hukum kemanusiaan internasional dapat ditegakkan di Gaza. “Itulah sebabnya, dalam dialog kami dengan otoritas Israel, kami terus menyerukan hukum kemanusiaan internasional, yang berusaha mengurangi penderitaan warga sipil pada saat konflik bersenjata, untuk ditegakkan,” ucapnya.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











