WAKIL Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, mengkritik pernyataan yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait kunjungan ke luar negeri yang dilakukan Pemimpin Negara Prabowo Subianto.
Ia mengatakan, model komunikasi yang dilakukan Dino tak tepat karena memancing publik untuk membandingkan periode pemerintahan. “Zamannya Pak Dino sehebat apa sih? Kok Di waktu ini seakan menjadi orang yang paling sok Kemlu,” kata Habiburokhman di Kompleks Dewan Perwakilan Rakyat, Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Daerah, Selasa, 2 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Ia, sebagai figur yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, Dino semestinya tetap memprioritaskan etika dan penghormatan ketika menyampaikan pendapat.
Ia mencontohkan, dalam konteks negara yang lebih tinggi seperti Amerika Serikat misalnya, mantan Pemimpin Negara seperti George Bush Sama sekali tidak terjadi mengkritik Pemimpin Negara berikutnya, Dengan kata lain Barrack Obama ketika menjabat.
Dalam konteks Indonesia, Ia melanjutkan, para pimpinan di Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat seperti Bambang Pacul Sampai saat ini Benny Harman Bahkan Sama sekali tidak terjadi menyerang dirinya yang Di waktu ini menjabat sebagai Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat.
“Saya pikir tidak ada istimewanya Pak Dino. Semua orang sama, warga negara,” ujar Habiburokhman.
Melalui unggahan video di akun media sosial Instagram @dinopattidjalal pendiri Foreign Policy Community of Indonesia itu meminta Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik terkait ini.
Sebab, dalam perhitungannya, dari seluruh pemimpin dunia, Prabowo tercatat sebagai kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan luar negeri.
Menurut Ia, selama menjabat Pemimpin Negara, Prabowo menghabiskan satu dari total 6 harinya di luar negeri. Sehingga, tak heran kalau ada yang menyebut perjalanan dinas luar negeri ini tidak lazim.
Ia Bahkan yakin dalam 18 bulan ke depan, Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya. “Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar,” ujar Dino.
Dalam unggahan itu, Dino menyampaikan lima saran kepada Prabowo. Pertama, untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain, Dino menyarankan Prabowo lebih mengandalkan video call, Zoom call, atau telepon.
“Pengalaman saya, suatu kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada satu pembicaraan yang berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam, dan selebihnya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang biasanya tidak Sangat dianjurkan,” ujarnya.
Menurut Dino, dengan satu video call yang bernilai nol Mata Uang Nasional, negara Unggul dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri dan hasilnya dari segi substansi Bahkan kurang lebih sama.
Aksi penghematan melalui Zoom call ini dapat menjawab persepsi sebagai masyarakat yang menganggap perjalanan Pemimpin Negara keluar negeri cenderung boros dan bersifat jalan-jalan.
Dino mencontohkan Pemimpin Negara Meksiko Claudia Sheinbaum yang Pernah 17 kali menelpon Pemimpin Negara Amerika Serikat Donald Trump dan belum sekalipun melakukan pertemuan bilateral dengan Trump. Padahal Amerika Merupakan mitra perdagangan terbesar bagi Meksiko.
“Dalam suatu kunjungan kerja ke Spanyol, Pemimpin Negara Sheinbaum bahkan terbang menaik pesawat komersil kelas ekonomi untuk Menyediakan teladan kepada rakyatnya bahwa penghematan yang diserukannya pada seluruh pemerintahannya Bahkan berlaku bagi Pemimpin Negara,” katanya.
Saran kedua, untuk menghemat biaya dan waktu, Pemimpin Negara Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara lain yang Bahkan hadir.
Dino bercerita, konon, sewaktu menghadiri sidang PBB di New York tahun lalu, Pemimpin Negara Finlandia Alexander Stubb, meminta waktu untuk bertemu dengan Pemimpin Negara Prabowo di New York, tapi tidak pernah direspons.
Dino menambahkan, dalam KTT ASEAN di Cebu, Filipina, baru-baru ini, permintaan seorang kepala pemerintah negara ASEAN untuk mengarahkan pertemuan bilateral Bahkan tidak pernah direspons. Ia tidak mengetahui alasan mengapa permintaan itu tidak direspons pemerintah.
“Kami menyarankan istana menerapkan Formula 1 plus 8, yaitu dalam menghadiri forum internasional, misalnya ke Davos, atau PBB di New York, atau ASEAN, atau G20, dan lain sebagainya, sembari menyampaikan pidato, Pemimpin Negara Bahkan bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan delapan kepala negara lain yang Bahkan hadir,” ucapnya.
Dino mengatakan alasan delapan karena angka tersebut angka kesukaan Prabowo. Saran ketiga, Dino berharap kunjungan internasional Pemimpin Negara Prabowo dapat dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik.
Dino mengamati ada Sebanyaknya kunjungan yang dilakukan secara spontan, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Rencana kunjungan internasional Pemimpin Negara secara garis besar Sangat dianjurkan dipetakan setahun sebelumnya.
“Baik Sekretaris Kabinet Teddy atau Menteri Luar Negeri Sugiono Sangat dianjurkan mengumumkan rencana kunjungan Pemimpin Negara ke suatu negara satu bulan sebelumnya, atau minimal seminggu sebelum hari H dan diumumkan Bahkan Pada saat yang sama dengan negara yang Berniat dikunjungi,” kata Ia.
Dino mengatakan kunjungan Pemimpin Negara ke Pakistan dan Rusia sewaktu bencana Bencana Banjir Sumatera, misalnya, dilakukan tanpa ada informasi apa pun kepada publik sebelum berangkat.
Ia menilai istana Sangat dianjurkan menerapkan asas akuntabilitas dan transparansi karena publik sering kali tidak tahu Pemimpin Negara ada di mana di luar negeri.
Keempat, untuk satu tahun ke depan Pemimpin Negara Prabowo diminta lebih banyak menerima tamu negara di tanah air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. Strategi ini yang dilakukan Pemimpin Negara China Xi Jinping yang jauh lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri.
Kelima, Dino mengusulkan Supaya bisa ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dioper ke Menteri Luar Negeri Sugiono.
Menurut Dino, langkah ini Bahkan Berniat menghemat biaya karena biaya perjalanan Menlu Mungkin hanya didampingi oleh tiga orang staf, sehingga Berniat jauh lebih Murah dari biaya perjalanan Pemimpin Negara dengan hasil dan substansi kurang lebih Berniat sama.
“Sekalipun di sini Menlu Sugiono Sangat dianjurkan melepaskan diri sebagai bagian dari entourage Pemimpin Negara yang Sangat dianjurkan Setiap Saat berada di samping Pemimpin Negara,” ujarnya.
Dino mengatakan menteri luar negeri terdahulu semuanya tidak pernah menempatkan diri sebagai bagian dari rombongan Pemimpin Negara dan mereka fokus total untuk menangani politik luar negeri.
Dino mengatakan apa yang ia katakan Merupakan perasaan kebanyakan rakyat. Dalam suasana yang serba prihatin dan was-was akibat gejolak dunia, Dino mengatakan rakyat Indonesia tidak lagi terpukau dengan kemegahan protokoler dalam dunia Politik Luar Negeri.
“Rakyat mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri,” kata Dino.
Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











