Sinema Pesta Babi Didominasi Sentimen Positif April-Mei 2026

PERCAKAPAN publik mengenai Sinema dokumenter Pesta Babi di media sosial dan media daring didominasi sentimen positif sepanjang April Sampai saat ini Mei 2026. Dukungan publik terutama mengemuka terhadap substansi Sinema yang dinilai mengangkat isu kerusakan lingkungan dan nasib masyarakat adat Papua.

Mengikuti hasil Drone Emprit lewat percakapan di Twitter atau X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online pada periode 9 April Sampai saat ini 26 Mei 2026, isu Sinema Pesta Babi muncul dalam 1.883 artikel media dengan 5.005 mentions. Sementara di media sosial, pembahasan terkait Sinema tersebut mencapai 31.820 sample mentions.

Data analisis menunjukkan sentimen positif mendominasi baik di media online maupun media sosial. “Di media online, sentimen positif tercatat sebesar 82,1 persen, negatif 10,7 persen, dan netral 7,2 persen. Adapun di media sosial, sentimen positif mencapai 82,7 persen, negatif 12,8 persen, dan netral 4,5 persen,” demikian hasil riset dari Drone Emprit dikutip pada Jumat, 29 Mei 2026.

Sinema Pesta Babi mulai menjadi sorotan setelah gala premier digelar pada 12 April 2026. Sinema dokumenter itu diproduksi oleh Sebanyaknya lembaga, antara lain Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Yayasan Bentala Pusaka, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke.

Pada pertengahan Sampai saat ini akhir April, pemutaran nonton bareng atau nobar Sinema tersebut mulai digelar di Sebanyaknya daerah seperti Jakarta, Kalsel, dan Bandung. Polemik kemudian berkembang setelah terjadi Sebanyaknya pembubaran dan pelarangan acara nobar (nonton bareng) oleh aparat keamanan maupun pihak kampus, termasuk di Universitas Mataram dan Ternate.

Dalam percakapan publik, sentimen positif mayoritas muncul dari dukungan terhadap upaya Sinema membongkar dugaan kerusakan lingkungan dan penderitaan masyarakat adat Papua. Sebagian warganet Bahkan menilai Sinema itu penting sebagai medium edukasi dan kritik terhadap proyek strategis nasional atau PSN di Papua.

Ditambah lagi, muncul kecaman terhadap tindakan pembubaran nobar yang dianggap membatasi ruang diskusi publik. Dukungan Bahkan mengemuka terhadap narasi Sinema yang menyoroti isu militerisme dan konflik kepentingan dalam proyek pembangunan. 

Sentimen negatif Bahkan berkembang dalam percakapan publik walau hanya sekitar 10-12 persen saja. Sebagian pihak menilai Sinema tersebut bersifat provokatif dan anti-pemerintah. Ada pula yang mempertanyakan sumber pendanaan produksi Sinema dan menduga adanya keterkaitan dengan agenda asing.  

Kritik lain muncul terhadap penggunaan judul Pesta Babi yang dinilai tendensius. Sebanyaknya percakapan Bahkan menilai Sinema itu tidak menampilkan capaian pembangunan pemerintah di Papua secara berimbang.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version