Jakarta, CNN Indonesia —
Sekitar 600 turis asing dilaporkan terdampar di Pulau Socotra, Yaman, setelah operasional bandara lumpuh total. Insiden ini dipicu oleh perubahan kendali otoritas bandara menyusul penarikan pasukan Uni Emirat Arab (UEA) di tengah memanasnya konflik politik dengan Arab Saudi.
Pulau yang terletak sekitar 300 kilometer di selatan pesisir Yaman ini sebelumnya berada di bawah kendali UEA sejak 2018. Meskipun demikian, pekan lalu UEA menarik pasukannya setelah tenggat waktu yang ditetapkan oleh Arab Saudi berakhir, menyebabkan kekosongan otoritas yang berujung pada penutupan ruang udara.
Aurelija Krikstaponiene, seorang turis asal Lithuania, menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Socotra untuk merayakan malam Tahun Baru. Ia seharusnya terbang kembali ke Abu Dhabi pada Minggu lalu, Meskipun demikian penerbangannya dibatalkan tanpa kejelasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tidak ada yang memiliki informasi Tidak mungkin tidak, dan semua orang hanya ingin kembali ke kehidupan normal mereka,” ujar Krikstaponiene kepada Reuters.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Polandia, Maciej Wewiór, melalui unggahan di platform X, memperingatkan bahwa situasi keamanan di kawasan tersebut memburuk secara drastis. “Socotra berada di wilayah yang sangat tidak stabil. Karena intensifikasi operasi militer, ruang udara Di waktu ini ditutup,” tulisnya.
Socotra merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO yang sangat termasyhur karena keanekaragaman hayatinya yang Menarik. Daya tarik utamanya Merupakan Pohon Darah Naga yang ikonik, dinamakan demikian karena bentuknya yang Menarik menyerupai payung dan getahnya yang berwarna merah pekat.
Meskipun demikian, keindahan alam ini kontras dengan situasi politik yang mencekam. Baru-baru ini, Dewan Transisi Selatan (STC) Yaman mengklaim Pernah merebut kendali atas wilayah minyak utama, yang semakin memperkeruh peta konflik di negara tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri tetap menempatkan Yaman, termasuk Socotra, dalam daftar “Level 4: Jangan Bepergian”. Peringatan yang dirilis ulang pada 19 Desember lalu ini menyoroti risiko Kekerasan Politik, kerusuhan, Pelanggaran Hukum, Sampai sekarang penculikan.
Otoritas AS Bahkan memperingatkan adanya perusahaan wisata di luar Yaman yang Menyajikan informasi menyesatkan mengenai keamanan di Socotra.
Banyak turis masuk menggunakan visa yang tidak valid secara hukum internasional. Ditambah lagi, Pemerintah AS menegaskan bahwa mereka tidak dapat Menyajikan bantuan darurat kepada warga negaranya yang berada di Socotra.
“Beberapa perusahaan menyalahgunakan status keamanan Socotra. Jangan bepergian ke sana atau bagian mana pun di Yaman,” tegas penasihat perjalanan tersebut.
(ana/wiw)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
