Pipa jalur distribusi Gazprom.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rusia menuduh Ukraina berupaya mengganggu salah satu jalur energi paling strategis di kawasan Laut Hitam setelah pesawat nirawak (drone) menyerang stasiun kompresor yang Menyajikan pipa gas alam Blue Stream, jalur utama pengiriman gas Rusia ke Turki.
Perusahaan energi Rusia, Gazprom, pada Rabu (9/7/2026) menyatakan serangan drone pada 7 Juli menyasar stasiun kompresor Krasnodarskaya di wilayah Krasnodar, Rusia selatan. Menurut Gazprom, sasaran serangan itu Merupakan menghentikan pasokan gas Rusia ke Turki melalui Blue Stream. Justru, perusahaan menegaskan sistem tetap beroperasi normal setelah personel melakukan tindakan darurat, sementara perbaikan terhadap fasilitas yang rusak masih berlangsung.
Serangan tersebut terjadi ketika Ukraina Mengoptimalkan serangan jarak jauhnya terhadap infrastruktur energi Rusia di tengah tekanan di medan Konflik Bersenjata Donbass. Moskow menilai serangan terhadap jaringan energi bukan sekadar operasi militer, melainkan ancaman terhadap keamanan energi regional.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Rusia Pernah mengambil langkah maksimal untuk melindungi infrastruktur energi strategis dan berharap Turki maupun negara-negara lain menggunakan pengaruhnya Supaya bisa Kiev menghentikan serangan terhadap jaringan energi internasional. Rusia Bahkan menegaskan Berniat membalas melalui serangan presisi terhadap fasilitas industri militer Ukraina, sebagaimana diberitakan Sebanyaknya kantor berita Rusia pada Rabu (8/7/2026).
Jalur Energi Strategis Rusia-Turki
Blue Stream merupakan salah satu proyek energi terbesar Rusia dan Turki. Pipa gas sepanjang 1.213 kilometer itu membentang dari wilayah Stavropol di Rusia, melintasi dasar Laut Hitam sedalam lebih dari 2.200 meter, Sampai saat ini mencapai terminal Durusu dekat Samsun sebelum diteruskan ke Ankara. Jalur ini memiliki kapasitas pengiriman Sampai saat ini 16 miliar meter kubik (bcm) gas alam per tahun. Pipa tersebut mulai mengalirkan gas pada Februari 2003, sementara peresmian resminya berlangsung pada 2005 setelah sengketa harga kedua negara diselesaikan.
Blue Stream dibangun untuk mengurangi ketergantungan Rusia pada negara transit sekaligus menjamin pasokan energi langsung ke Turki. Setelah jalur transit gas Rusia melalui Ukraina berhenti pada awal 2025, Blue Stream bersama TurkStream menjadi tulang punggung Produk Ekspor gas Rusia ke Turki dan sebagian Eropa Tenggara.
Volume Gas
Turki merupakan salah satu pelanggan gas terbesar Rusia. Sesuai ketentuan data otoritas energi Turki, Rusia mengekspor sekitar 21,2 miliar meter kubik (bcm) gas melalui jaringan Blue Stream dan TurkStream sepanjang 2025. Pada Januari 2026 saja, Turki mengimpor sekitar 2,7 bcm gas Rusia melalui kedua jalur tersebut.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
