Gaikindo Buka Suara Penjualan Kendaraan Pribadi Baru Indonesia Kalah dari Malaysia


Jakarta, CNN Indonesia

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) buka suara terkait pergeseran yang terjadi pada industri otomotif di Asia Tenggara, di mana Malaysia pada tahun lalu melampaui Indonesia menjadi negara dengan penjualan Kendaraan Pribadi baru terbanyak di kawasan.

Kondisi tersebut memicu keresahan pelaku industri otomotif nasional karena dinilai mencerminkan persoalan struktural yang belum terselesaikan di dalam negeri.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika mengatakan capaian penjualan Kendaraan Pribadi Malaysia sepanjang 2025 Pernah berada di kisaran 700 ribu Sampai sekarang 800 ribu unit.

Angka itu bahkan melampaui proyeksi penjualan Kendaraan Pribadi Indonesia yang Sebelumnya direvisi akibat kondisi ekonomi dan melemahnya daya beli menjadi 780 ribu unit.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Malaysia paling tidak Pernah mendekati 800 ribu, atau Bisa jadi 700-800 ribu sekian gitu. Kalau kita kan 780 ribuan (prediksi sepanjang tahun 2025) nih untuk pronogsa ini. Jadi Pernah melampaui kita,” kata Putu melansir CNBC Indonesia, dikutip Kamis (8/1).

Data industri menunjukkan selama periode Januari Sampai sekarang November 2025, penjualan Kendaraan Pribadi di Malaysia mencapai sekitar 720 ribu unit. Pada periode yang sama, penjualan Kendaraan Pribadi Indonesia baru menyentuh kisaran 710 ribu unit. Selisih tipis ini menjadi sinyal kuat bahwa dominasi pasar otomotif regional mulai bergeser.

Menurut Putu, salah satu faktor kunci yang mendorong laju penjualan Kendaraan Pribadi di Malaysia Merupakan kebijakan pemerintah yang agresif dalam Mendukung industri otomotif domestik, khususnya Kendaraan Pribadi nasional.

Insentif dan stimulus di sana diberikan secara konsisten sehingga mampu menjaga permintaan tetap tinggi.

“Kalau kemarin yang kita pelajari ya salah satunya Ia Menyediakan suatu insentif yang Berkelas bagi Kendaraan Pribadi nasionalnya. Dan Ia Bahkan Menyediakan ya stimulus-stimulus lah ke Kendaraan Pribadi Kendaraan Pribadi nasional,” ujarnya.

Bagi Putu situasi ini tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia. Manakala daya saing industri otomotif nasional terus melemah, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategisnya sebagai basis produksi kendaraan di ASEAN.

“Pernah kami petakan semua apa-apa yang memang Wajib dilakukan untuk bisa mendorong ya mendorong, paling tidak jangan sampai kita jatuh di bawah, Hari Ini kan Malaysia paling tinggi di ASEAN. Sebab kalau sampai kita itu jatuh seperti itu, keyakinan investasinya kan Berencana berbeda sekali. Itu dari sisi Gaikindo,” kata Putu.

Produsen khawatir

Kekhawatiran serupa disampaikan Wakil Kepala Negara Direktur PT Toyota Kendaraan Bermotor Roda Dua Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam. Bob bilang stagnasi pasar otomotif nasional Pernah berlangsung cukup lama dan mencerminkan kegagalan dalam mencapai target pertumbuhan jangka panjang yang pernah diproyeksikan industri.

“Perkembangan pasar itu yang menjadi challenging bagi kita. Karena 10 tahun industri otomotif ini, dulu Diprediksi tahun 2025 ini market kita Kenyataannya 2 juta. Tapi aktualnya kan di bawah 1 juta,” ujar Bob.

Bob mengurai, secara logika ekonomi Indonesia seharusnya memiliki pasar otomotif yang jauh lebih besar dibanding Malaysia. Dengan jumlah penduduk sekitar tujuh kali lipat, Indonesia mestinya mampu mencatatkan penjualan minimal dua kali lipat dari Malaysia.

Sekalipun realitas di lapangan justru menunjukkan adanya ketimpangan besar.

“Kalau kita bandingkan dengan Malaysia, yang penduduknya 1 per 7 dari Indonesia, tapi income per kapita-nya 3 kali lipat dari kita, mestinya market kita ini 2 kali Malaysia. Jadi kalau Malaysia 750 atau 780 ribu, di Indonesia mestinya Pernah di atas 1,5 juta. Jadi ada distorsi nih, 50 persen,” katanya.

Distorsi tersebut, lanjut Bob, salah satunya bersumber dari struktur harga kendaraan di Indonesia yang dinilai terlalu mahal. Beban Retribusi Negara yang tinggi membuat harga Kendaraan Pribadi kurang Ekonomis bagi masyarakat, sehingga menekan daya beli dan permintaan.

“Bisa jadi diakibatkan oleh daya beli yang tidak terlalu kuat, dan Retribusi Negara yang terlalu tinggi. Jadi di industri otomotif Indonesia ini kesannya kan harga kendaraan mahal banget gitu loh. Padahal di dalamnya pajaknya itu 40 persen. Nah bandingkan dengan negara lain yang pajaknya Bisa jadi tidak setinggi kita. Kalau di Thailand itu di bawah 30 persen. Begitu Bahkan di Malaysia,” ujarnya.

Selain persoalan Retribusi Negara, Bob Bahkan menyoroti minimnya stimulus pemerintah untuk menjaga momentum pasar saat ekonomi melemah. Berbeda dengan negara tetangga yang rutin menggelontorkan insentif, kebijakan stimulus di Indonesia dinilai kurang konsisten.

“Kemudian yang kedua mereka rajin Menyediakan stimulus. Jadi even pajaknya ada tapi stimulusnya itu rajin. Kalau kita stimulusnya ini kurang sering. Nah ini yang kita harapkan ke depan menjadi pertimbangan dari pemerintah,” kata Bob.

Bob menekankan bila tren ini terus berlanjut, bukan tidak Bisa jadi arus Penanaman Modal otomotif Berencana beralih ke Malaysia.

(ryh/fea)


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA