DF-26D China, Si Guam Killer, Terungkap; Apa yang Membuatnya Sulit Dicegat?


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Struktur hulu ledak rudal balistik jarak menengah DF-26D untuk pertama kalinya diperlihatkan kepada publik sejak varian tersebut muncul pada parade militer China pada Oktober 2025. Penampilan terbaru itu memunculkan dugaan bahwa Beijing terus Mengoptimalkan kemampuan penetrasi rudalnya terhadap sistem Lini pertahanan udara modern.

Media Lini pertahanan Janes, dalam laporannya pada Selasa, 23 Juni 2026, menyebut rekaman yang disiarkan China Central Television (CCTV) memperlihatkan DF-26 versi terbaru dengan sirip kendali di dekat hulu ledak. Sirip tersebut diduga berfungsi Mengoptimalkan kemampuan manuver rudal pada fase terminal atau tahap akhir sebelum menghantam sasaran.

Kemampuan bermanuver itu memungkinkan lintasan rudal berubah baik secara horizontal maupun vertikal, sehingga berpotensi Mengoptimalkan kemampuan menembus sistem Lini pertahanan rudal sekaligus menyerang sasaran bergerak.

Sampai sekarang Saat ini Bahkan, otoritas China belum mengungkap spesifikasi resmi DF-26D. Meskipun demikian Sebanyaknya pengamat menilai desain baru tersebut mengindikasikan penggunaan maneuverable reentry vehicle (MaRV) generasi terbaru, bahkan tidak menutup kemungkinan mengadopsi konsep hypersonic glide vehicle yang mampu terus bermanuver saat meluncur Ke arah target.

Seandainya benar demikian, DF-26D diperkirakan Akan segera jauh lebih sulit dicegat dibanding rudal balistik konvensional yang mengikuti lintasan lebih dapat Diprediksi.

Varian dasar DF-26 sendiri Sudah dioperasikan oleh People’s Liberation Army Rocket Force (PLARF) sejak 2016. Sesuai ketentuan data Center for Strategic and International Studies (CSIS) Missile Threat Project, rudal berbahan bakar padat dua tahap itu memiliki jangkauan sekitar 4.000 kilometer, mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir seberat 1.200 Sampai sekarang 1.800 kilogram, serta diluncurkan dari kendaraan peluncur bergerak (road-mobile transporter erector launcher).

Dengan jangkauan tersebut, DF-26 menjadi rudal balistik konvensional pertama China yang diyakini mampu menjangkau Guam, Tempat berbagai pangkalan strategis militer Amerika Serikat di Pasifik Barat. Kemampuan inilah yang membuat rudal tersebut kerap dijuluki “Guam Killer” oleh para analis Lini pertahanan.

Selain mampu menyerang sasaran darat, China Bahkan mengembangkan varian anti-kapal DF-26. CSIS mencatat varian tersebut diperkirakan menggunakan pencari sasaran (terminal seeker) aktif sehingga dapat menyerang kapal Pertempuran yang Dalam proses bergerak di laut. Pengujian terhadap varian anti-kapal itu dilaporkan berlangsung pada 2020 di Laut China Selatan.

Pengembangan DF-26 selama bertahun-tahun Bahkan terus menjadi perhatian Pentagon. Dalam laporan tahunan Military and Security Developments Involving the People’s Republic of China, Departemen Lini pertahanan AS berulang kali menilai keluarga rudal DF-26 sebagai salah satu komponen penting strategi anti-access/area denial (A2/AD) Beijing untuk membatasi pergerakan kekuatan militer AS di kawasan Indo-Pasifik.

 


Loading…



Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version