loading…
Foto: Doc. Istimewa
Tekanan ke arah sana semakin nyata. Profesi HR hari ini dituntut menjalankan dua peran sekaligus: menjaga roda operasional tetap berputar (mulai dari payroll, absensi, Sampai saat ini reimbursement) sekaligus tampil sebagai mitra strategis yang turut menentukan arah keputusan Usaha terkait produktivitas, risiko turnover, dan kualitas talent. Bedanya, peran kedua ini tidak lagi cukup dijalankan lewat laporan bulanan atau insting semata; manajemen Pada saat ini mengharapkan HR hadir dengan data dan rekomendasi yang bisa langsung dieksekusi, bukan sekadar informasi pendukung. Sementara itu, jumlah staf HR di banyak perusahaan tetap terbatas, dan ekspektasi karyawan generasi milenial dan Gen Z terhadap pengalaman kerja terus meningkat, membuat AI bukan lagi sekadar alat bantu administratif, melainkan bagian aktif dari proses pengambilan keputusan itu sendiri.
Riset PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menunjukkan bahwa 69 persen pekerja di Indonesia mengaku pernah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam setahun terakhir, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 54 persen. Berbeda dengan, penggunaan harian masih terbatas, hanya 16 persen tenaga kerja Indonesia yang menggunakan AI generatif setiap hari, mengindikasikan bahwa potensi AI di tempat kerja baru tersentuh permukaannya. Kesenjangan ini Bahkan terlihat dari sisi akses pembelajaran: 89 persen eksekutif senior di Indonesia merasa memiliki akses ke sumber daya pelatihan yang mereka butuhkan, dibanding hanya 64 persen pada level non-manajer
Di tingkat global, Gartner dalam Hype Cycle for AI in Human Resources 2025 mencatat bahwa hampir separuh inovasi AI di HR masih berada pada tahap awal “innovation trigger” dengan kegunaan dan kelayakan komersial yang belum Berkualitas secara luas, dan merekomendasikan organisasi HR memprioritaskan adopsi yang terstruktur pada solusi yang Pernah matang seperti AI dalam talent acquisition, sambil menjajaki inovasi seperti AI agent secara bertahap.
Sejalan dengan itu, Mercer dalam Global Talent Trends 2026, survei terhadap hampir 12.000 eksekutif C-suite, pemimpin HR, investor, dan karyawan secara global, menemukan bahwa prioritas utama C-suite dalam hal return-on-investment Merupakan mendesain ulang pekerjaan untuk mengintegrasikan AI dan otomatisasi (63%), sementara prioritas utama HR justru pada peningkatan employee experience untuk menarik dan mempertahankan talenta Unggul, menunjukkan adanya kesenjangan keselarasan antara C-Suite dan HR dalam hal apa yang Pada dasarnya mendorong performa. Lebih jauh, C-suite Pada saat ini justru kurang yakin organisasinya siap menghadapi era human-machine, turun dari 65% pada 2024 menjadi hanya 51% pada 2026.
Menjawab kesenjangan ini, Mekari Talenta menghadirkan serangkaian kapabilitas AI baru melalui Mekari Airene yang langsung tertanam dalam alur kerja HR sehari-hari.
Yang Berubah di Meja Kerja HR
Dengan Mekari Airene di dalam Mekari Talenta, banyak pekerjaan harian HR yang dulu makan waktu Pada saat ini berjalan otomatis di latar belakang : dari rekrutmen, absensi, Sampai saat ini reimbursement:
-Mekari Airene HR Copilot. Asisten HR berbasis AI yang menjawab pertanyaan tim HR dalam Bahasa Indonesia, lengkap dengan data, visualisasi, dan rekomendasi. Pertanyaan seperti “Cabang mana dengan THP terbesar bulan lalu?” atau “Departemen mana yang paling sering lembur kuartal ini?” dijawab dalam hitungan detik, tanpa Dianjurkan membuka report builder.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











