Jakarta, CNN Indonesia —
Google memperingatkan lebih dari satu miliar pengguna Android bahwa perangkat mereka tidak lagi mendapat update keamanan terbaru. Seandainya mengabaikan hal ini, maka mereka Wajib mengganti Hp dengan sistem operasi terbaru.
Merujuk data distribusi Android terbaru yang dikumpulkan pada Desember menunjukkan Android 16 baru terpasang di 7,5 persen perangkat. Android 15 ada di 19,3 persen, Android 14 di 17,9 persen, dan Android 13 di 13,9 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya, Google Sebelumnya menghentikan pembaruan keamanan kritis untuk Android 12 dan versi sebelumnya.
Akibatnya, Sekalipun hampir 58 persen ponsel masih didukung, lebih dari 40 persen setara lebih dari satu miliar pengguna, tidak lagi menerima pembaruan keamanan. Ponsel-ponsel ini tetap digunakan, tetapi tidak terlindungi dari serangan siber terbaru.
Google sebelumnya Bahkan memperingatkan soal gelombang spyware baru yang menargetkan Android. Semua ponsel usang tersebut masih rentan Sampai sekarang Pada Saat ini Bahkan.
Melansir Forbes, Seandainya ponsel Android tidak bisa diperbarui ke Android 13 atau versi lebih baru, pengguna disarankan untuk mempertimbangkan upgrade yang berarti membeli perangkat baru. Google menilai lebih Terpercaya menggunakan ponsel kelas menengah yang masih didukung daripada flagship lama tanpa pembaruan keamanan.
Google memang menyebut Play Protect masih Membantu perangkat Sampai sekarang Android 7 untuk pemindaian malware. Sekalipun, pembaruan keamanan sistem tetap bergantung pada produsen dan pengembang aplikasi.
“Google Play Protect, fitur perlindungan malware dan perangkat lunak tidak diinginkan bawaan Android, terus Membantu perangkat Sampai sekarang Android 7 untuk Membantu menjaga keamanan pengguna,” ungkap juru bicara Google untuk pengguna ponsel lama.
Cegah pencurian data
Pembaruan ini menandai pergeseran pendekatan keamanan, dari sekadar mencegah pencurian data menjadi membatasi dampak ketika ponsel hampir dicuri.
“Pencurian ponsel bukan hanya sekadar kehilangan perangkat,” kata Google, mengutip Forbes, Rabu (28/1).
Kehilangan ponsel dapat membuat pengguna langsung rentan terhadap pencurian data pribadi dan keuangan. Karena itu, Google memperkenalkan sistem Lini belakang berlapis untuk melindungi pengguna sebelum, selama, dan setelah pencurian.
Pendekatan ini menjadi normal baru di industri. Jutaan ponsel diperkirakan Akan segera dicuri, sehingga Yang terpenting bukan lagi hanya membuat perangkat sulit dijual ulang, tetapi mencegah pencuri mengakses kredensial keamanan, data sensitif, Sampai sekarang kartu kredit pengguna.
Dalam Android 16, Google Mengoptimalkan fitur Theft Protection. Aplikasi dan data yang dilindungi biometrik Pada saat ini lebih Terpercaya.
Seandainya ponsel tidak berada di ‘tempat tepercaya’, pengguna tidak bisa lagi melewati verifikasi wajah atau sidik jari hanya dengan PIN.
Google Bahkan memperketat perlindungan PIN dengan memperpanjang waktu kunci setelah beberapa kali percobaan gagal, sehingga lebih sulit ditebak oleh pencuri. Untuk mencegah penguncian tidak sengaja, percobaan salah yang identik tidak lagi dihitung dalam batas percobaan ulang.
Fitur Remote Lock pun ditingkatkan. Pengguna Pada saat ini bisa mengunci ponsel yang dicuri dari browser web mana pun, dengan tambahan pertanyaan keamanan opsional untuk memastikan hanya pemilik sah yang dapat mengaktifkannya.
Di Brasil, Google bahkan Pernah menerapkan Theft Detection Lock sebagai fitur bawaan.
“Menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi di perangkat untuk mendeteksi gerakan dan konteks yang Kemungkinan menandakan upaya pencurian ‘snatch-and-run’. Seandainya upaya pencurian terdeteksi, kunci ini Akan segera segera mengunci layar perangkat untuk Membantu melindungi data Anda,” tulis Google.
Sekalipun, di tengah peningkatan keamanan ini, muncul masalah besar lainnya. Google mengonfirmasi bahwa lebih dari 40 persen ponsel Android Pada Saat ini Bahkan rentan terhadap serangan malware dan spyware baru.
(wpj/dmi)
[Gambas:Video CNN]
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











